Secarik Surat Sufi dikirim oleh Ibnu Atahaillah as-Sakandary kepada salah seorang sahabatnya:
“Manusia dalam merespon anugerah itu terbagi tiga: Pertama, gembira terhadap anugerah, bukan gembira pada Sang Pemberi dan Pencipta anugerah, namun hanya terbatas gembira pada wujud nikmatnya anugerah. Dan manusia ini tergolong orang-orang yang alpa. Ini relevan dengan firman Allah Swt, “Hingga ketika mereka bergembira terhadap apa yang diberikan, maka tiba-tiba Kami ambil seketika.” (Al-An’aam: 44)
Kedua, golongan orang yang gembira pada anugerah, dari segi Pemberi dan Penganugerahnya, hal ini termasuk dalam firmanNya, “Katakan (Muhammad) dengan anugerah Allah dan rahmatNya, maka dengan (melalui) hal itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik disbanding apa yang mereka kumpulkan (baik amal maupun ibadahnya).” (Yunus: 58).
Ketiga, orang yang gembira pada Allah Swt, sama sekali gembiranya bukan pada wujud lahiriyahnya nikmat, maupun makna batin tersembunyi dibalik nikmat itu. Namun lebih sibuk memandang Allah Swt dibanding yang lain, sehingga ia tidak menyaksikan kecuali hanya pada Allah Swt. Inilah yang disebut dalam ayat: “Katakan (Muhammad) Allah (saja), lalu biarkan mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (Al-An’aam: 91).
Allah Swt telah memberi wahyu kepada Nabi Dawud as, “Wahai Dawud, katakan kepada para Shiddiqun (Wali), “hanya padaKu saja mereka harus bergembira, dan hendaknya mereka bersenang-senang dengan dzikir padaKu.”
Semoga Allah Swt, menjadikan kegembiraan kita dan anda, hanya padaNya dan menjadikan kita golong kaum yang faham, dan tidak menjadikan kita termasuk kaum yang lalai. Hendaknya pula kita dijadikan penempuh jalan orang-orang yang taqwa, berkat anugerah dan kemuliaanNya.”
Surat itu ditulis oleh beliau, untuk mengingatkan kita semua, dan muhasabah kita, apakah kita tergolong kelompok pertama yang senantiasa alpa, terjebak pada materialism anugerah, hedonism nikmat atau bahkan terpuruk dalam hijab kebendaan yang terus menutupi kita dari Sang PenciptaNya?
Survey publik memang mengungkapkan, mayoritas manusia terjebak pada kegembiraan, sorak sorai, jika wujud anugerah ada di depan matanya. Bila kita berada di wilayah tipudaya seperti itu, sesungguhnya kita harus segera menyadari, bahwa jebakan wujud anugerah bisa menimbulkan kufur nikmat, terhijab dalam lapisan siksa materialism dan hedonism. Sebuah siksaan yang mengerikan, bukan?
Allah Swt membuka pintu-pintu anugerahNya, tetapi umumnya manusia lebih bergembira memasuki pintu-pintu siksaNya.
Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts
Sunday, November 23, 2014
Wednesday, March 5, 2014
Mendidik Jiwa
Diantara perilaku yang harus dilakukan murid hendaknya selalu berjuang melawan nafsuuntuk meninggalkan segala kesenangannya. Mereka mengatakan, “Barangsiapa selalu menyetujui kesenangan nafsunya maka akan kehilangan kejernihan hatinya.” Allah Swt. memberi wahyu
kepada Nabi Dawud as., “Wahai Dawud, berhati-hatilah dan peringatkan kaummu agar tidak makan dengan menuruti kesenangan nafsu. Sebab hati orang-orang yang mengikuti kesenangan nafsu akan terhalang dari-Ku.”
Hal ini akan mustahil bila seorang hamba tidak berusaha berjuang (mujahadat) melawan nafsunya sampai pada batas akhir. Sebab al-Haq Swt. barangkali memberi anugerah kepadanya dengan tidak adanya hijab, sementara ia makan dengan kesenangan yang diperkenankan sebagai nikmat yang disegerakan dan apa yang seharusnya diberikan di akhirat tanpa harus mengurangi sedikit pun dari nikmat akhirat, sebagai sedekah dari Allah kepada hambaNya.
Mereka menganggap termasuk kefasikan orang-orang arif yang secara leluasa menikmati kehidupan duniawi dan kesenangannya ketika kondisi spiritualnya telah sempurna. Sebab hal itu akan menyesatkan para pengikutnya, sehingga dosa para pengikutnya akan dipikulkan kepada mereka. — Dan hanya AllahYang Maha tahu.
[B]AKIBAT MERUSAK PERJANJIAN
[/B]Dan diantara perilaku seorang murid hendaknya senantiasa menjaga janji yang sudah diikatnya bersama Allah Swt. untuk selalu bertobat dari segala dosa yang pernah ia lakukan. Kalau ia sampai mengingkari dan merusak janji, maka ini termasuk dosa terbesar, yang dianggap bentuk riddah (murtad) dari sebagian agamanya, dan hampir saja akan terjadi kemurtadan dari seluruh agamanya. Pepatah mengatakan, “Maksiat adalah pos (pengantar) kekufuran.”
Dalam suatu Hadis disebutkan: Bahwa Rasulullah Saw. di hari Kiamat nanti akan melihat beberapa kaum dari umatnya yang dibawa ke kelompok kiri (neraka), kemudian Nabi berkata, “Wahai Tuhan, itu umatku!” Lalu beliau dijawab, “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka kerjakan setelah engkau mati. Sesungguhnya mereka telah kembali (murtad) mundur ke belakang dengan kekalahan. “Akhirnya Nabi berkata, “Benar-benar celaka dan hancur!” Sebagian ulama mengatakan, bahwa mereka tidak murtad dari dasar agamanya. Mereka hanya dianggap murtad karena telah meninggalkan perbuatan dari cabang-cabang (furu’) agamanya, dengan bukti bahwa Nabi akan memberi syafaat kepada mereka ketika kemarahan Tuhan telah menjadi tenang dan disetujui untuk memberi syafaat.
[B]KEBAIKAN BERADA PADA MENGIKUTI SUNAH DAN KEJELEKAN BERADA PADA TINDAKAN BID’AH
[/B]Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Tidak sepantasnya seorang murid berjanji kepada Allah Swt. untuk melakukan sesuatu yang bukan termasuk bagian yang diperintahkan Allah Swt. Sebab di dalam hal-hal yang dibenci (makruhat) syariat terdapat sesuatu yang tidak memerlukan hal itu.”
Kemudian kadang si murid tidak mendapatkan pertolongan atas apa yang telah menjadi perjanjian dengan Tuhannya, karena tidak masuk di bawah sumber utama apa yang disyariatkan-Nya. Sebab Allah Swt. tidak menjamin pertolongan kecuali kepada orang yang berada di bawah perintah yang disyariatkan-Nya melalui lisan para Rasul-Nya. Dalam al-Qur’an disebutkan:
“Dan mereka menciptakan kependetaan (rahbaniah), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, (tetapi mereka sendiri yang menciptakannya sebagai model baru) untuk mencari keridhaan Allah. Lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” (Q.s. al-Hadid: 27).
Maka seluruh kebaikan hanya berada pada mengikuti apa yang disyariatkan, sedangkan kejelekan berada pada menciptakan bentuk baru (bid’ah).
Dan diantara perilaku murid, hendaknya memperpendek angan-angannya, sehingga ia bisa bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan dan menjauhi apa yang dilarang. Sebab orang yang angan-angannya terlalu tinggi mesti akan menunda-nunda kebaikan dan akan tercebur dalam pelanggaran syariat. Kemudian diri (nafsu)nya akan mengatakan, “Bila ajalmu telah dekat maka bertobatlah kepada Allah atas segala pelanggaran yang telah kamu lakukan. Dan seakan-akan kamu tidak pernah berbuat dosa sama sekali, sebab orang yang telah bertobat seperti orang yang tak berdosa!” mi merupakan penipuan terbesar yang dilakukan nafsu anda. Kenyataan seperti ini cukup banyak dilakukan oleh sebagian besar manusia.
Oleh karenanya kaum sufi mengatakan: “Sesungguhnya orang fakir sufi adalah anak waktunya.” Ia tidak akan melihat pada apa yang telah berlalu dan tidak melihat pada apa yang bakal datang. Sebab dengan melihat ke belakang dan ke depan hanya akan menelantarkan waktu yang sedang berlangsung. Merekajuga mengatakan: “Setiap orang yang melihat kepada amalnya dengan menunda-nunda, maka umurnya akan hilang sia-sia, dan tidak akan bisa menuai tanamannya. Akhirnya ia rugi dunia dan akhirat.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[B]MAQAM TAJARRUD
[/B]Dan diantara perilaku murid, hendaknya tidak memperhatikan profesi yang telah maklum atau pengeluaran kebutuhan sehari-hari atau ongkos sewa rumah. Pikirannya hendaknya tidak berkaitan dengan hal-hal di atas. Dalam tarekat ia harus berusaha keras untuk memerangi kesenangan nafsunya, sampai tidak punya lagi perhatian terhadap sesuatu selain Allah. Barangsiapa tidak mau berusaha memerangi nafsunya maka tidak akan ada sesuatu yang muncul darinya dalam menempuh tarekat, sebab tidak lagi memperhatikan hal-hal yang menjadi kebalikan dan hal-hal yang menjadikan peningkatan spiritual.
Ahmad ar-Rifa’i —rahimahullah— mengatakan: “Gelapnya kecenderungan pada hal-hal yang sudah maklum bisa memadamkan sinar waktunya.”
Saya mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi —rahimahullah— mengatakan: Barangsiapa duduk di antara kaum fakir sufi yang tinggal di pemondokan, kemudian dia masih menoleh kepada hal-hal duniawi yang sudah maklum, maka dia akan berhenti dalam perjalanan dan akan merusak kaum fakir sufi yang lemah yang tinggal di pemondokan. Dia akan memikul semua dosa tersebut. Oleh karenanya, ia harus keluar dari pemondokan. Sebab pewakafan untuk dibuat pemondokan atau apa saja yang dihadiahkan di sana, hanyalah bertujuan mengantarkan orang-orang yang telah bisa meninggalkan dunia dan hanya menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah Azza wa-Jalla. Maka orang yang mewakafkan atau yang memberi hadiah hanya karena Allah Swt. akan menjadi senang bila itu menjadi barang wakaf atau hadiah untuk orang-orang fakir yang punya kesibukan di atas. Sehingga seorang fakir sufi yang tinggal di pemondokan dan tidak mau menyibukkan diri dengan Allah Azza wa-Jalla, lalu dia makan dari makanan yang ada di pemondokan, berarti dia makan makanan haram, sebagaimana yang disyaratkan orang yang mewakafkannya. Sebab andaikan dia melihatnya tidak menyibukkan diri dengan Allah, tentu dia tidak akan mewakafkan apa pun kepadanya. Bahkan dia akan mengatakan, “Keluarlah, dan bekerja bersama para pedagang yang ada di pasar.”
[B]CITA-CITA MULIA
[/B]Seorang murid hendaknya tidak menerima wakaf dari perempuan atau orang yang sudah berusia lanjut dan mereka yang memiliki pekerjaan, sekalipun mereka datang dengan membawa pemberian tersebut tanpa diminta lebih dahulu. Sebab diantara syarat masuk tarekat adalah memiliki cita-cita luhur. Maka barangsiapa rela di bawah pemberian seorang perempuan atau perempuan tua yang tidak mampu bekerja berarti ia orang yang memiliki cita-cita rendah dan tingkatan di bawah tingkatan perempuan tersebut. Maka dia jauh dari tarekat.
Saya mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata: “Bila anda melihat seorang murid membaca (al-Qur’an) di atas kuburan dan ia menerima pemberian dari perempuan, maka jauhkan tangan anda darinya. Barangsiapa mengambil keringanan syariat dalam masalah tersebut tanpa ada kebutuhan, berarti dia seorang pemburu dunia. Sementara pemburu dunia tidak akan bisa sukses dalam suluk tarekat menuju akhirat.” Lebih lanjut ia mengatakan:
“Seorang guru tarekat tidak boleh mengambil sumpah dari murid seperti ini dan tidak boleh membimbingnya dzikir. Kalau sang guru melakukannya berarti meremehkan tarekat.”
Imam al-Qusyairi mengatakan: “Saya telah menghitung pesan-pesan (wasiat) para guru di berbagai daerah kepada para murid, hendaknya tidak menerima wakaf dari kaum perempuan. Sebab hal itu termasuk perusak yang tidak jelas. Dimana pada akhirnya sang murid dengan watak dasar manusiawinya akan condong kepada orang yang berbuat baik kepadanya, sehingga hatinya akan rusak secara total.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.
[B]LARANGAN UNTUK DUDUK BERSAMA ORANG-ORANG YANG LUPA ALLAH
[/B]Seorang murid harus menjauhi berteman dan dudukbersama orang-orang yang lupa Allah dan kalangan pemburu dunia dan pedagang. Sebab duduk bersama mereka merupakan racun yang mematikan bagi si murid, karena lemahnya si murid dan seringnya mereka melupakan Allah dan menyibukkan diri dengan masalah-masalah dunia, Seperti makanan, pakaian, perempuan yang dinikahi dan Sebagainya. Sehingga mencintai hal-hal yang berkaitan dengan dunia akan mencuri watak dasar manusiawi Si murid. Sedangkan pekerjaan Si murid hanyalah berusaha membuang hal- hal yang berkaitan dengan duniawi. Padahal kalau mampu, para pemburu dunia akan memanfaatkan Si fakir, dan ini merupakan kekurangan bagi Si fakir. Allah Swt. berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, sementara masalahnya sangat melewati batas.” (Q.s. al-Kahfi: 28).
Kami tidak pernah melihat seorang murid pun yang bergaul dengan para pemburu dunia kecuali hatinya akan mati dan tidak ada kecenderungan untuk mengikuti majelis dzikir, tidak ada keinginan untuk bangun malam, dan tidak ada lagi faktor yang mendorong untuk melakukan hal-hal tersebut.
Tuan Guru Muhammad al-Ghamari ketika melihat murid yang sering kali duduk di pintu mesjid bersama para pemburu dunia, maka akan mengusirnya dari pemondokannya sembari berkata, “Sesungguhnya pemondokan hanyalah digunakan untuk beribadah dan menutup mata untuk tidak lagi melihat hal-hal yang menjadi kesenangan nafsu. Maka barangsiapa duduk di depan pintu pemondokan maka tidak ada bedanya dengan duduk di pasar.”
Demi Allah, sungguh hal itu akan mempengaruhi orang fakir sufi bila perangkapnya sudah berkembang pada majelis-majelis kebaikan dan akan mengotorinya. Karena saya tahu bahwa hal itu akan mencerai-beraikan hatinya dan mematikannya. Semoga Allah mengampuni orang-orang yang tidak mau menerima nasihatku.
[B]PENYAKIT-PENYAKIT HATI
[/B]Seorang murid hendaknya menjauhi segala perbuatan yang dapat mematikan hati, seperti banyak melakukan hal-hal yang tak bermanfaat dan lupa dengan Allah. Maka hal itu termasuk hal yang sangat ampuh untuk mematikan hati. Sedangkan pekerjaan seorang fakir sufi hanyalah berusaha menghidupkan hatinya dan jauh dari segala yang menjadikannya lupa dengan Allah. Sebab hati manusia seperti roda penggilingan tepung, bila roda ini rusak maka semuanya akan rusak. Sementara penggilingan tepung hanya memiliki satu roda penggerak, dan bila ada dua roda penggerak maka tidak bisa berfungsi.
kepada Nabi Dawud as., “Wahai Dawud, berhati-hatilah dan peringatkan kaummu agar tidak makan dengan menuruti kesenangan nafsu. Sebab hati orang-orang yang mengikuti kesenangan nafsu akan terhalang dari-Ku.”
Hal ini akan mustahil bila seorang hamba tidak berusaha berjuang (mujahadat) melawan nafsunya sampai pada batas akhir. Sebab al-Haq Swt. barangkali memberi anugerah kepadanya dengan tidak adanya hijab, sementara ia makan dengan kesenangan yang diperkenankan sebagai nikmat yang disegerakan dan apa yang seharusnya diberikan di akhirat tanpa harus mengurangi sedikit pun dari nikmat akhirat, sebagai sedekah dari Allah kepada hambaNya.
Mereka menganggap termasuk kefasikan orang-orang arif yang secara leluasa menikmati kehidupan duniawi dan kesenangannya ketika kondisi spiritualnya telah sempurna. Sebab hal itu akan menyesatkan para pengikutnya, sehingga dosa para pengikutnya akan dipikulkan kepada mereka. — Dan hanya AllahYang Maha tahu.
[B]AKIBAT MERUSAK PERJANJIAN
[/B]Dan diantara perilaku seorang murid hendaknya senantiasa menjaga janji yang sudah diikatnya bersama Allah Swt. untuk selalu bertobat dari segala dosa yang pernah ia lakukan. Kalau ia sampai mengingkari dan merusak janji, maka ini termasuk dosa terbesar, yang dianggap bentuk riddah (murtad) dari sebagian agamanya, dan hampir saja akan terjadi kemurtadan dari seluruh agamanya. Pepatah mengatakan, “Maksiat adalah pos (pengantar) kekufuran.”
Dalam suatu Hadis disebutkan: Bahwa Rasulullah Saw. di hari Kiamat nanti akan melihat beberapa kaum dari umatnya yang dibawa ke kelompok kiri (neraka), kemudian Nabi berkata, “Wahai Tuhan, itu umatku!” Lalu beliau dijawab, “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka kerjakan setelah engkau mati. Sesungguhnya mereka telah kembali (murtad) mundur ke belakang dengan kekalahan. “Akhirnya Nabi berkata, “Benar-benar celaka dan hancur!” Sebagian ulama mengatakan, bahwa mereka tidak murtad dari dasar agamanya. Mereka hanya dianggap murtad karena telah meninggalkan perbuatan dari cabang-cabang (furu’) agamanya, dengan bukti bahwa Nabi akan memberi syafaat kepada mereka ketika kemarahan Tuhan telah menjadi tenang dan disetujui untuk memberi syafaat.
[B]KEBAIKAN BERADA PADA MENGIKUTI SUNAH DAN KEJELEKAN BERADA PADA TINDAKAN BID’AH
[/B]Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Tidak sepantasnya seorang murid berjanji kepada Allah Swt. untuk melakukan sesuatu yang bukan termasuk bagian yang diperintahkan Allah Swt. Sebab di dalam hal-hal yang dibenci (makruhat) syariat terdapat sesuatu yang tidak memerlukan hal itu.”
Kemudian kadang si murid tidak mendapatkan pertolongan atas apa yang telah menjadi perjanjian dengan Tuhannya, karena tidak masuk di bawah sumber utama apa yang disyariatkan-Nya. Sebab Allah Swt. tidak menjamin pertolongan kecuali kepada orang yang berada di bawah perintah yang disyariatkan-Nya melalui lisan para Rasul-Nya. Dalam al-Qur’an disebutkan:
“Dan mereka menciptakan kependetaan (rahbaniah), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, (tetapi mereka sendiri yang menciptakannya sebagai model baru) untuk mencari keridhaan Allah. Lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” (Q.s. al-Hadid: 27).
Maka seluruh kebaikan hanya berada pada mengikuti apa yang disyariatkan, sedangkan kejelekan berada pada menciptakan bentuk baru (bid’ah).
Dan diantara perilaku murid, hendaknya memperpendek angan-angannya, sehingga ia bisa bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan dan menjauhi apa yang dilarang. Sebab orang yang angan-angannya terlalu tinggi mesti akan menunda-nunda kebaikan dan akan tercebur dalam pelanggaran syariat. Kemudian diri (nafsu)nya akan mengatakan, “Bila ajalmu telah dekat maka bertobatlah kepada Allah atas segala pelanggaran yang telah kamu lakukan. Dan seakan-akan kamu tidak pernah berbuat dosa sama sekali, sebab orang yang telah bertobat seperti orang yang tak berdosa!” mi merupakan penipuan terbesar yang dilakukan nafsu anda. Kenyataan seperti ini cukup banyak dilakukan oleh sebagian besar manusia.
Oleh karenanya kaum sufi mengatakan: “Sesungguhnya orang fakir sufi adalah anak waktunya.” Ia tidak akan melihat pada apa yang telah berlalu dan tidak melihat pada apa yang bakal datang. Sebab dengan melihat ke belakang dan ke depan hanya akan menelantarkan waktu yang sedang berlangsung. Merekajuga mengatakan: “Setiap orang yang melihat kepada amalnya dengan menunda-nunda, maka umurnya akan hilang sia-sia, dan tidak akan bisa menuai tanamannya. Akhirnya ia rugi dunia dan akhirat.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[B]MAQAM TAJARRUD
[/B]Dan diantara perilaku murid, hendaknya tidak memperhatikan profesi yang telah maklum atau pengeluaran kebutuhan sehari-hari atau ongkos sewa rumah. Pikirannya hendaknya tidak berkaitan dengan hal-hal di atas. Dalam tarekat ia harus berusaha keras untuk memerangi kesenangan nafsunya, sampai tidak punya lagi perhatian terhadap sesuatu selain Allah. Barangsiapa tidak mau berusaha memerangi nafsunya maka tidak akan ada sesuatu yang muncul darinya dalam menempuh tarekat, sebab tidak lagi memperhatikan hal-hal yang menjadi kebalikan dan hal-hal yang menjadikan peningkatan spiritual.
Ahmad ar-Rifa’i —rahimahullah— mengatakan: “Gelapnya kecenderungan pada hal-hal yang sudah maklum bisa memadamkan sinar waktunya.”
Saya mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi —rahimahullah— mengatakan: Barangsiapa duduk di antara kaum fakir sufi yang tinggal di pemondokan, kemudian dia masih menoleh kepada hal-hal duniawi yang sudah maklum, maka dia akan berhenti dalam perjalanan dan akan merusak kaum fakir sufi yang lemah yang tinggal di pemondokan. Dia akan memikul semua dosa tersebut. Oleh karenanya, ia harus keluar dari pemondokan. Sebab pewakafan untuk dibuat pemondokan atau apa saja yang dihadiahkan di sana, hanyalah bertujuan mengantarkan orang-orang yang telah bisa meninggalkan dunia dan hanya menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah Azza wa-Jalla. Maka orang yang mewakafkan atau yang memberi hadiah hanya karena Allah Swt. akan menjadi senang bila itu menjadi barang wakaf atau hadiah untuk orang-orang fakir yang punya kesibukan di atas. Sehingga seorang fakir sufi yang tinggal di pemondokan dan tidak mau menyibukkan diri dengan Allah Azza wa-Jalla, lalu dia makan dari makanan yang ada di pemondokan, berarti dia makan makanan haram, sebagaimana yang disyaratkan orang yang mewakafkannya. Sebab andaikan dia melihatnya tidak menyibukkan diri dengan Allah, tentu dia tidak akan mewakafkan apa pun kepadanya. Bahkan dia akan mengatakan, “Keluarlah, dan bekerja bersama para pedagang yang ada di pasar.”
[B]CITA-CITA MULIA
[/B]Seorang murid hendaknya tidak menerima wakaf dari perempuan atau orang yang sudah berusia lanjut dan mereka yang memiliki pekerjaan, sekalipun mereka datang dengan membawa pemberian tersebut tanpa diminta lebih dahulu. Sebab diantara syarat masuk tarekat adalah memiliki cita-cita luhur. Maka barangsiapa rela di bawah pemberian seorang perempuan atau perempuan tua yang tidak mampu bekerja berarti ia orang yang memiliki cita-cita rendah dan tingkatan di bawah tingkatan perempuan tersebut. Maka dia jauh dari tarekat.
Saya mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata: “Bila anda melihat seorang murid membaca (al-Qur’an) di atas kuburan dan ia menerima pemberian dari perempuan, maka jauhkan tangan anda darinya. Barangsiapa mengambil keringanan syariat dalam masalah tersebut tanpa ada kebutuhan, berarti dia seorang pemburu dunia. Sementara pemburu dunia tidak akan bisa sukses dalam suluk tarekat menuju akhirat.” Lebih lanjut ia mengatakan:
“Seorang guru tarekat tidak boleh mengambil sumpah dari murid seperti ini dan tidak boleh membimbingnya dzikir. Kalau sang guru melakukannya berarti meremehkan tarekat.”
Imam al-Qusyairi mengatakan: “Saya telah menghitung pesan-pesan (wasiat) para guru di berbagai daerah kepada para murid, hendaknya tidak menerima wakaf dari kaum perempuan. Sebab hal itu termasuk perusak yang tidak jelas. Dimana pada akhirnya sang murid dengan watak dasar manusiawinya akan condong kepada orang yang berbuat baik kepadanya, sehingga hatinya akan rusak secara total.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.
[B]LARANGAN UNTUK DUDUK BERSAMA ORANG-ORANG YANG LUPA ALLAH
[/B]Seorang murid harus menjauhi berteman dan dudukbersama orang-orang yang lupa Allah dan kalangan pemburu dunia dan pedagang. Sebab duduk bersama mereka merupakan racun yang mematikan bagi si murid, karena lemahnya si murid dan seringnya mereka melupakan Allah dan menyibukkan diri dengan masalah-masalah dunia, Seperti makanan, pakaian, perempuan yang dinikahi dan Sebagainya. Sehingga mencintai hal-hal yang berkaitan dengan dunia akan mencuri watak dasar manusiawi Si murid. Sedangkan pekerjaan Si murid hanyalah berusaha membuang hal- hal yang berkaitan dengan duniawi. Padahal kalau mampu, para pemburu dunia akan memanfaatkan Si fakir, dan ini merupakan kekurangan bagi Si fakir. Allah Swt. berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, sementara masalahnya sangat melewati batas.” (Q.s. al-Kahfi: 28).
Kami tidak pernah melihat seorang murid pun yang bergaul dengan para pemburu dunia kecuali hatinya akan mati dan tidak ada kecenderungan untuk mengikuti majelis dzikir, tidak ada keinginan untuk bangun malam, dan tidak ada lagi faktor yang mendorong untuk melakukan hal-hal tersebut.
Tuan Guru Muhammad al-Ghamari ketika melihat murid yang sering kali duduk di pintu mesjid bersama para pemburu dunia, maka akan mengusirnya dari pemondokannya sembari berkata, “Sesungguhnya pemondokan hanyalah digunakan untuk beribadah dan menutup mata untuk tidak lagi melihat hal-hal yang menjadi kesenangan nafsu. Maka barangsiapa duduk di depan pintu pemondokan maka tidak ada bedanya dengan duduk di pasar.”
Demi Allah, sungguh hal itu akan mempengaruhi orang fakir sufi bila perangkapnya sudah berkembang pada majelis-majelis kebaikan dan akan mengotorinya. Karena saya tahu bahwa hal itu akan mencerai-beraikan hatinya dan mematikannya. Semoga Allah mengampuni orang-orang yang tidak mau menerima nasihatku.
[B]PENYAKIT-PENYAKIT HATI
[/B]Seorang murid hendaknya menjauhi segala perbuatan yang dapat mematikan hati, seperti banyak melakukan hal-hal yang tak bermanfaat dan lupa dengan Allah. Maka hal itu termasuk hal yang sangat ampuh untuk mematikan hati. Sedangkan pekerjaan seorang fakir sufi hanyalah berusaha menghidupkan hatinya dan jauh dari segala yang menjadikannya lupa dengan Allah. Sebab hati manusia seperti roda penggilingan tepung, bila roda ini rusak maka semuanya akan rusak. Sementara penggilingan tepung hanya memiliki satu roda penggerak, dan bila ada dua roda penggerak maka tidak bisa berfungsi.
Rahasia Dzikir
Mengingat Allah (Dzikrullah) merupakan salah satu anjuran yang sangat ditekankan dalam Islam dan merupakan bentuk nyata dari penghambaan kita kepada Allah Swt. Dzikrullah (mengingat Allah) merupakan amalan yang sangat agung. Ia merupakan sebab diturunkannya berbagai nikmat, Penolak segala bala’ dan musibah. Dzikir juga merupakan sebab kuatnya hati dan penyejuk hati manusia.
Aktifitas ini mempunyai manfaat yang sangat besar. Baik dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Begitu juga sebaliknya, seorang yang lalai dalam mengingat Allah tentu akan meraih kerugian yang tak terhinggah. Allah Swt menggolongkan orang-orang yang lalai dalam mengingat-Nya sebagai kelompok yang rugi.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)
Hakikat Dzikir
Dzikir bukan hanya sebuah tutur kata dan lafadz yang keluar dari lisan, melainkan suatu hakikat yang mengakar dalam jiwa sehingga dapat menjadikan manusia terhubung dengan sang pencipta, yaitu Allah Swt. Inti dari mengingat Allah adalah hati dan jiwa kita. Yaitu dengan mengingat Allah Swt, manusia merasakan kehadiran dan Kebesaran-Nya. Ucapan dzikir yang keluar dari lisan seseorang merupakan reaksi dari kontak yang terjadi antara jiwa manusia bersama Tuhan-Nya.
Manfaat Dzikrullah
Sebagaimana yang telah disinggung di atas. Dzikrullah merupakan aktifitas mulia yang menyimpan segudang manfaat. Diantaranya sebagai berikut :
1. Menerangi hati dan pikiran
Mengingat Allah atau Dzikrullah dapat menerangi hati dan akal pikiran. Terkait hal ini Imam Ali as, berkata, barang siapa yang berdzikir dan mengingat Allah, Allah Swt akan menghidupkan hatinya serta menerangi akal dan pikirannya.
2. Kemenangan dan kekuatan
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.(QS. 8:45)
Dalam ayat ini Allah Taala memerintahkan kepada kaum Muslimin apabila mereka menjumpai segolongan dari pasukan musuh supaya meneguhkan hati dan selalu menyebut nama Allah dengan banyak berzikir agar mereka mencapai kejayaan dan kemenangan. Hal ini merupakan suatu pokok kekuatan yang menyebabkan kemenangan dalam setiap perjuangan.
Dengan meningat Allah yang maha besar serta meyakini bahwa kemenangan itu berada di tangan-Nya dan Allah akan menolong kaum Muslimin, maka seorang Muslim akan optimis dan mengerahkan segala kemampuannya dalam menaklukkan musuhnya.
Dalam kitab Mizanul-hikmah, Imam Ali bin Abi Thalib menyeru kita untuk sedikit berbicara dan banyak mengingat Allah Swt dalam duel melawan musuh.(2)
3. Allah Swt akan mengingat kita
ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.(QS. 2:152)
ayat diatas menjelaskan salah satu dari manfaat dzikir. Apabila kita senantiasa mengingat Allah, maka tentu Allah Swt senantiasa mengingat kita dan apabila kita dilanda musibah, maka Allah Swt tidak akan lupa untuk menolong kita selaku hambanya yang lemah.
Dalam kitab Biharul-anwar, Imam Ja'far al-Sadiq as mengatakan bahwa Allah Swt bersabda kepada hamba-hambanya demikian, “ wahai anak adam, ingatlah aku dalam hati dan jiwamu sehingga aku juga mengingatmu dalam hati dan jiwaku, ingatlah aku dalam keramaian sehingga aku mengingatmu dalam keramaian”.(3)
4. Penyucian Jiwa
Mengingat Allah merupakan perantara penyucian jiwa. oleh karena itu, hati manusia yang selalu terkontaminasi oleh berbagai keburukan dapat dibersihkan melalui berdzikir. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib as dalam nasehatnya kepada putranya Imam Hasan Mujtaba berkata, “ putraku,aku menasehatimu untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt dan membersihkan jiwamu melalui Dzikrullah”.(4)
5. Mencegah tipu daya syaitan
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.(QS. 7:201)
Ayat ini mengajarkan kita perihal keharusan berlindung kepada Allah swt dari godaan syaitan. Ayat ini juga menjelaskan kepada kita bahwa Senjata yang paling ampuh mengusir syaitan ialah ingat dan muraqabah kepada Allah swt di dalam segala keadaan. Ingat selalu kepada Allah itu menanamkan ke dalam jiwa cinta kebenaran dan kebajikan, melemahkan kecenderungan negatif/buruk dalam jiwa sehingga dapat menjadi pencegah dari tipu daya syaitan yang terkutuk.
Berkenaan dengan hal ini, Dalam kitab Ghurarul Hikam, Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan bahwasannya mengingat Allah Swt dapat menyebabkan syaitan terpenjara dan melindungi diri kita dari godaan serta tipu daya syaitan.
6. Ketenangan jiwa
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (surat al-Ra'ad ayat 28)
Ketenangan dan kenyamanan jiwa adalah sesuatu yang dikejar oleh semua manusia tanpa terkecuali. Dan dzikrullah atau mengingat Allah merupakan jalan utama dalam mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa.
7. Ampunan Allah
laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. 33:35)
Aktifitas ini mempunyai manfaat yang sangat besar. Baik dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Begitu juga sebaliknya, seorang yang lalai dalam mengingat Allah tentu akan meraih kerugian yang tak terhinggah. Allah Swt menggolongkan orang-orang yang lalai dalam mengingat-Nya sebagai kelompok yang rugi.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)
Hakikat Dzikir
Dzikir bukan hanya sebuah tutur kata dan lafadz yang keluar dari lisan, melainkan suatu hakikat yang mengakar dalam jiwa sehingga dapat menjadikan manusia terhubung dengan sang pencipta, yaitu Allah Swt. Inti dari mengingat Allah adalah hati dan jiwa kita. Yaitu dengan mengingat Allah Swt, manusia merasakan kehadiran dan Kebesaran-Nya. Ucapan dzikir yang keluar dari lisan seseorang merupakan reaksi dari kontak yang terjadi antara jiwa manusia bersama Tuhan-Nya.
Manfaat Dzikrullah
Sebagaimana yang telah disinggung di atas. Dzikrullah merupakan aktifitas mulia yang menyimpan segudang manfaat. Diantaranya sebagai berikut :
1. Menerangi hati dan pikiran
Mengingat Allah atau Dzikrullah dapat menerangi hati dan akal pikiran. Terkait hal ini Imam Ali as, berkata, barang siapa yang berdzikir dan mengingat Allah, Allah Swt akan menghidupkan hatinya serta menerangi akal dan pikirannya.
2. Kemenangan dan kekuatan
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.(QS. 8:45)
Dalam ayat ini Allah Taala memerintahkan kepada kaum Muslimin apabila mereka menjumpai segolongan dari pasukan musuh supaya meneguhkan hati dan selalu menyebut nama Allah dengan banyak berzikir agar mereka mencapai kejayaan dan kemenangan. Hal ini merupakan suatu pokok kekuatan yang menyebabkan kemenangan dalam setiap perjuangan.
Dengan meningat Allah yang maha besar serta meyakini bahwa kemenangan itu berada di tangan-Nya dan Allah akan menolong kaum Muslimin, maka seorang Muslim akan optimis dan mengerahkan segala kemampuannya dalam menaklukkan musuhnya.
Dalam kitab Mizanul-hikmah, Imam Ali bin Abi Thalib menyeru kita untuk sedikit berbicara dan banyak mengingat Allah Swt dalam duel melawan musuh.(2)
3. Allah Swt akan mengingat kita
ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.(QS. 2:152)
ayat diatas menjelaskan salah satu dari manfaat dzikir. Apabila kita senantiasa mengingat Allah, maka tentu Allah Swt senantiasa mengingat kita dan apabila kita dilanda musibah, maka Allah Swt tidak akan lupa untuk menolong kita selaku hambanya yang lemah.
Dalam kitab Biharul-anwar, Imam Ja'far al-Sadiq as mengatakan bahwa Allah Swt bersabda kepada hamba-hambanya demikian, “ wahai anak adam, ingatlah aku dalam hati dan jiwamu sehingga aku juga mengingatmu dalam hati dan jiwaku, ingatlah aku dalam keramaian sehingga aku mengingatmu dalam keramaian”.(3)
4. Penyucian Jiwa
Mengingat Allah merupakan perantara penyucian jiwa. oleh karena itu, hati manusia yang selalu terkontaminasi oleh berbagai keburukan dapat dibersihkan melalui berdzikir. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib as dalam nasehatnya kepada putranya Imam Hasan Mujtaba berkata, “ putraku,aku menasehatimu untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt dan membersihkan jiwamu melalui Dzikrullah”.(4)
5. Mencegah tipu daya syaitan
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.(QS. 7:201)
Ayat ini mengajarkan kita perihal keharusan berlindung kepada Allah swt dari godaan syaitan. Ayat ini juga menjelaskan kepada kita bahwa Senjata yang paling ampuh mengusir syaitan ialah ingat dan muraqabah kepada Allah swt di dalam segala keadaan. Ingat selalu kepada Allah itu menanamkan ke dalam jiwa cinta kebenaran dan kebajikan, melemahkan kecenderungan negatif/buruk dalam jiwa sehingga dapat menjadi pencegah dari tipu daya syaitan yang terkutuk.
Berkenaan dengan hal ini, Dalam kitab Ghurarul Hikam, Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan bahwasannya mengingat Allah Swt dapat menyebabkan syaitan terpenjara dan melindungi diri kita dari godaan serta tipu daya syaitan.
6. Ketenangan jiwa
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (surat al-Ra'ad ayat 28)
Ketenangan dan kenyamanan jiwa adalah sesuatu yang dikejar oleh semua manusia tanpa terkecuali. Dan dzikrullah atau mengingat Allah merupakan jalan utama dalam mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa.
7. Ampunan Allah
laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. 33:35)
Monday, July 29, 2013
KECANTIKAN HAQIQI SEORANG WANITA
Kecantikan adalah impian para wanita.
Mereka berdandan,berhias,menunjukan perhiasan dan kemolekan tubuh.
Hanya untuk mendapatkan gelar ratu kecantikan.
Tidakkah mereka mengetahui kecantikan yg haqiqi?
Inilah nasehat orang tua kepada putrinya akan makna kecantikan yg haqiqi.
Kecantikan jiwa lebih tinggi nilainya.
"Wahai putriku,jika engkau menginginkan kecantikan menghiasi tubuh dan akalmu,tinggalkanlah kebiasaan berabarruj (bersolek),karena kecantikan jiwa itu lebih tinggi dan lebih mulia.
(Hal ini sebagaimana bunga buatan),bunga buatan yg dibuat oleh para penghiasnya,namun bunga yg berada ditaman tidak ada yg menyaingi keindahan dan bentuknya.
"Wahai putriku,jadilah engkau seperti matahari yg menyinari manusia baik yg mulia maupun yg hina.
Rasa malu dan sikap lemah lembut adalah perangai terpuji.
Jadikanlah rasa malu sebagai perangaimu.
Karena rasa malu lebih utama dalam diri seorang wanita.
Tidak ada kebahagiaan sedikitpun pada seorang gadis jika rasa malu sudah lenyap darinya.
Dan jika engkau melihat seorang yg tertimpa kesusahan,ulurkanlah kepadanya bantuan dan iringilah dengan cucuran air mata kebaikan.
Karena air mata yg keluar dari rasa kebaikan lebih indah dalam pipi dan lebih cantik serta lebih tinggi nilainya dari permata.
Semoga Bermanfaat.
Mereka berdandan,berhias,menunjukan perhiasan dan kemolekan tubuh.
Hanya untuk mendapatkan gelar ratu kecantikan.
Tidakkah mereka mengetahui kecantikan yg haqiqi?
Inilah nasehat orang tua kepada putrinya akan makna kecantikan yg haqiqi.
Kecantikan jiwa lebih tinggi nilainya.
"Wahai putriku,jika engkau menginginkan kecantikan menghiasi tubuh dan akalmu,tinggalkanlah kebiasaan berabarruj (bersolek),karena kecantikan jiwa itu lebih tinggi dan lebih mulia.
(Hal ini sebagaimana bunga buatan),bunga buatan yg dibuat oleh para penghiasnya,namun bunga yg berada ditaman tidak ada yg menyaingi keindahan dan bentuknya.
"Wahai putriku,jadilah engkau seperti matahari yg menyinari manusia baik yg mulia maupun yg hina.
Rasa malu dan sikap lemah lembut adalah perangai terpuji.
Jadikanlah rasa malu sebagai perangaimu.
Karena rasa malu lebih utama dalam diri seorang wanita.
Tidak ada kebahagiaan sedikitpun pada seorang gadis jika rasa malu sudah lenyap darinya.
Dan jika engkau melihat seorang yg tertimpa kesusahan,ulurkanlah kepadanya bantuan dan iringilah dengan cucuran air mata kebaikan.
Karena air mata yg keluar dari rasa kebaikan lebih indah dalam pipi dan lebih cantik serta lebih tinggi nilainya dari permata.
Semoga Bermanfaat.
Subscribe to:
Posts (Atom)