Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Monday, September 7, 2020

Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Sebagai Pengkader Ulama' dan Pejuang Bangsa

 

Menurut para peneliti ke-pesantrenan, pondok pesantren yang pertama kali adalah pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo berdiri sekitar abad 17. Pesantren yang dimaksud disini adalah pesantren dengan makna jamak seperti sekarang, dengan artian mempunyai seorang pengasuh sebagai suri tauladan santri dan sistem seperti bandongan,sorogan.
Pesantren Tegalsari diasuh oleh tiga bersaudara yakni Kyai Khotib Anom (leluhur Kyai Sholeh Banjar melati), Ki Ageng Muhammad Besari dan Kyai Nur Shodiq. Menurut penuturan para sesepuh, pembagian tugas kepengasuhanpun sudah ada. Kyai Khotib Anom bertugas ngaji kitab kuning, Ki Ageng Muhammad Besari bertugas mengurusi ngaji dan kemasyarakatan karena beliau kepala tanah perdikan dan Kyai Nur Shodiq bertugas dalam masalah pengajian Al-Qur an dan kanuragan. Sistem seperti ini ditiru oleh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
Menurut Gus Khoirul Muttaqin bahwa pembelajaran kitab kuning dengan metode makna utawi iki iku adalah peninggalan pesantren Tegalsari "Jika dilihat pada kamus kitab kuning, bahasa makna kitab kuning itu banyak bahasa Ponorogoan" jelasnya salah satu Dzurriyah Tegalsari. Ponorogo (06/09/2020)
Dari pesantren inilah,banyak tokoh besar bermunculan. Sebut saja Raja Selangor Malaysia Mbah Zainal Abidin bin Ki Ageng Muhammad Besari, Pangeran Diponegoro, Kyai Ageng Basyariah, Ronggo Warsito, Cokro Negoro,H.O.S Cokro aminoto (bapak bangsa dan guru sekaligus mertua Ir Soekarno) dan masih banyak lagi.
Pondok Gebangg Tinatar Tegalsari hanya tinggal kenangan, jejaknya tersebar oleh Dzurriyah-dzurriyah tegalsari dan mendirikan pondok sendiri yang tersebar kepelosok pulau jawa bahkan se antero Nusantara. Menurut Mbah Kicuk "Kalau Sabdo Mbah Ageng Besari, kalau keturunanku ingin jadi orang mulia harus keluar dari tegalsari dan haru berjuang sendiri" tutupnya salah satu dzurriyah tegalsari.

Tuesday, September 13, 2016

Bahasa Jawa, dan Berbagai Variasinya yang Luar Biasa

GRC - Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan Suku Jawa, baik yang bermukim di belahan Utara Pulau Jawa (sekarang Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta) sebagai tempat lahir bahasa tersebut, maupun di berbagai tempat lainnya, yang dihuni secara signifikan oleh para pendatang dari tanah Jawa, dengan berbagai latar belakang. Artikel ini mengulas sejumlah isu populer yang berkenaan dengan bahasa Jawa, dan tidak menyinggung hal-hal yang berhubungan dengan ilmu tatabahasa.
Persebaran
Bahasa Jawa (basa Jawa) termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesian, yang hari ini menjadi bahasa ibu bagi lebih dari 40 persen penduduk dari populasi masyarakat Indonesia, yang tersebar hampir di seluruh penjuru tanah air. Sensus tahun 1980 menunjukan, bahasa Jawa digunakan di Yogyakarta oleh 97,6% dari populasi penduduk, di Jawa Tengah (96,9%), di Jawa Timur (74,5%), di Lampung (62%), di Sumatera Utara (21%), di Sumatera Utara (17%), di Bengkulu (15,4%) di Sumatera Selatan (12,4%), di Jawa Barat (13%), dan dituturkan oleh kurang dari 10% dari populasi penduduk di tempat-tempat lainnya di Indonesia.
Masyarakat Jawa menyambut 1 Suro | foto Zimbio.com
Masyarakat Jawa menyambut 1 Suro | foto Zimbio.com

Selain di Indonesia, bahasa Jawa dengan penutur yang terbilang signifikan juga bisa ditemui di sejumlah negara, yakni di Malaysia, Singapura, Suriname, Kaledonia Baru, dan Belanda.  
Dialek
Sebagai salah satu bahasa besar dengan banyak penutur, bahasa Jawa memiliki sejumlah dialek, seperti misalnya Jawa Tengahan, yang terutama di bawah pengaruh dialek Surakarta dan dialek Yogyakarta, yang dianggap sebagai standar. Berikut sejumlah dialek dalam ‘rumpun’ dialek Jawa Tengahan:
  1.  Dialek Pekalongan, yang dituturkan di daerah Pekalongan (kabupaten dan kotamadya), serta di Pemalang.
  2. Dialek Kedu, yang dituturkan di daerah-daerah bekas keresidenan Kedu, yakni Temanggung, Kebumen, Magelang, dan Wonosobo.
  3. Dialek Bagelen, yang dituturkan di Purworejo.
  4. Dialek Semarang, yang dituturkan Semarang (kabupaten dan kotamadya), Salatiga, Demak, dan Kendal.
  5. Dialek Pantai Utara, atau dialek Muria, dituturkan di Jepara, Rembang, Kudus, Pati, dan juga di Tuban dan Bojonegoro.
  6. Dialek Blora, yang dituturkan di Blora, bagian Timur Grobogan dan bagian Barat Ngawi.
  7. Dialek Surakarta, yang dituturkan di Surakarta, Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, dan Boyolali
  8. Dialek Yogyakarta, yang dituturkan di Yogyakarta dan Klaten.
  9. Dialek Madiun, yang dituturkan di Provinsi Jawa Timur, termasuk Madiun, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, dan Magetan
Jaran Kepang, khas Jawa  | foto Shining-batu.com
Jaran Kepang, khas Jawa | foto Shining-batu.com

Kemudian, dikenal juga istilah Jawa Kulonan , yang dituturkan di bagian Barat Jawa Tengah dan di sejumlah wilayah Barat Pulau Jawa, yang meliputi:
  1. Dialek Banten Utara (Jawa Serang), yang dituturkan di Serang, Cilegon, dan bagian Barat Tangerang
  2. Dialek Cirebon (Cirebonan atau Basa Cirebon), yang dituturkan di Cirebon dan Losari, Sementara dialek Indramayu (atau Dermayon) yang dituturkan di Indramayu, Karawang, dan Subang, oleh banyak pihak digolongkan ke dalam Cirebonan.
  3. Dialek Tegal (Tegalan atau Dialek Pantura), dituturkan di Tegal, Brebes, dan bagian Barat Kabupaten Pemalang.
  4. Dialek Banyumas (Banyumasan), dituturkan di Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Bumiayu.
Oleh penutur bahasa Jawa lainnya, Dialek Jawa Kulonan ini sering disbut basa ngapak-ngapak.
Selain Jawa Tengahan dan Jawa Kulonan, dikenal juga istilah Jawa Timuran, yang dituturkan di ujung Timur Pulau Jawa, dari mulai wilayah Sungai Brantas di Kertosono, dan dari Nagnjuk hingga Banyuwangi, yang mencakup provinsi-provinsi di Jawa Timur, kecuali Pulau Madura. Dialek-dialek dalam ‘rumpun’ Jawa Timuran. Yakni:
  1. Dialek Surabaya (Suroboyoan), yang umumnya dituturkan di Surabaya, Gersik, Sidoarjo. Banyak orang Madura juga menggunakan dialek ini sebagai ‘bahasa’ kedua setelah bahasa mereka sendiri.
  2. Dialek Malang, yang dituturkan di Malang (kabupaten dan kotamadya), dan juga di Mojokerto.
  3. Dialek Jombang, yang dituturkan di Jombang.
  4. Dialek tengger, yang digunakan oleh orang-orang Tengger di sekitar Gunung Bromo.
  5. Dialek Banyuwangi (Basa Osing), yang dituturkan oleh orang-orang Osing di Banyuwangi. 
Di samping tiga ‘rumpun’ dialek di atas, selebihnya, dikenal juga bahasa Jawa Suriname (Surinamese Javanese), yang umumnya berasal dari Jawa Tengah, terutama keresidenan Kedu.
Undhak-undhuk
Bahasa Jawa mengenal istilah undhak-undhuk atau aturan tatakrama dalam berbahasa, yang mencakup pertimbangan-pertimbangan relasi sosial dan peran sosial para penutur yang terlibat dalam percakapan. Setidaknya, dikenal tiga bentuk undhak-undhuk, yakni:
  • Ngoko, (Ngaka), yang merupakan bahasa informal, yang umumnya digunakan di antara teman sebaya dan kerabat-kerabat terdekat, serta juga digunakan oleh orang dengan status sosial yang lebih tinggi kepada lawan bicara yang memiliki status sosial yang lebih rendah.
Abdi dalem Keraton Jogja | harianjogja.com
Abdi dalem Keraton Jogja | harianjogja.com

  • Madya, yang berada di antara ngoko dan krama. Jenis ini umumnya digunakan di antara para penutur yang tidak akrab, seperti penanya di jalan di mana satu sama lain tidak mengetahui kelas sosialnya, dan ketika seseorang ingin berbicara tidak terlalu formal dan juga tidak terlalu informal.
  • Krama, yang melupakan gaya paling sopan, yang umumnya digunakan orang-orang dalam status sosial sederajat ketika ingin menghindari gaya infrormal, atau digunakan oleh kalangan dengan status sosial yang lebih rendah kepada lawan bicaranya yang berasal dari golongan sosial yang lebih tinggi, termasuk dari yang lebih muda terhadap yang lebih tua. 

Sunday, May 29, 2016

image
GRC – Anda yang orang jawa atau suku jawa ataupun yang sudah menetap lama di jawa tengah atau jawa timur pasti tahu dengan salah satu lagu jawa yang berjudul lingsir wengi .
Lagu ini begitu populer dan sangat digemari oleh hampir semua kalangan, baik remaja maupun orang tua, karena lagu ini memang di buat dalam beberapa versi ,baik dangdut , congdut ( keroncong dangdut ), pop bahkan koplo.
Selain itu juga dikarenakan lagu ini memang sebenarnya sudah ada semenjak jamannya keberadaan para wali songo ketika menyebarkan agama Islam di pulau Jawa ( lagu bersejarah ).
image
Ada yang perlu digaris bawahi dalam penafsiran
masyarakat yang salah menempatkan lagu Lingsir Wengi ini sebagai lagu yang memiliki image negatif, atau menyeramkan bahkan dilarang untuk menyanyikannya dalam waktu-waktu tertentu.
Konon kata mereka lagu ini bisa mendatangkan kehadiran sosok makhluk gaib yang bernama kuntilanak.
Entah ini penafsiran dari mana, yang jelas semenjak lagu ini digunakan sebagai soundtrack film Kuntilanak, masyarakat yang tidak tahu menahu asal-usul lagu ini pun mulai memiliki pandangan yang berbeda terhadap lagu ini.
Dan kebanyakan dari pandangan itu mengarah
kepada hal-hal yang berbau mistik dan negatif.
image
Untuk itu, perlu dijelaskan kepada mereka bahwa pandangan mereka itu sebenarnya salah.
Lagu Lingsir Wengi ini diciptakan oleh penciptanya
bukanlah sebagai lagu pemanggil makhluk gaib
ataupun sejenisnya.
Nah, untuk menjelaskannya,
mari kita telusuri sejarah lagu ini.
Kita harus menyimak sejarah dan kembali ke jamannya para Wali Songo.
Catat baik-baik ya, lagu atau kidung Lingsir Wengi ini aslinya dibuat oleh Sunan Kalijaga, yaitu salah satu wali dari Wali Songo yang terkenal di pulau jawa karena mengajarkan kebaikan
dengan mengenalkan dan mengajarkan agama Islam di tanah jawa.
Sunan Kalijaga yang mempunyai nama kecil
Raden Said ini memiliki nama-nama lain seperti
Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.
Dan ternyata Beliau lah
yang menciptakan kidung Lingsir Wengi tersebut.
Sunan Kalijaga menciptakan kidung Lingsir Wengi ini dengan memakai pakem gending Jawa yaitu Macapat ( sekar macapat , baca : mocopat ).
Pakem Macapat ini terdiri dari
11 macam pakem yang salah satunya yaitu pakem Durma yang dipakai dalam Lingsir Wengi.
Dari sumber-sumber yang ada , memang biasanya lagu-lagu yang memakai Pakem
Durma harus mencerminkan suasana yang keras, sangar, suram, kesedihan, bahkan bisa mengungkapkan sesuatu yang mengerikan dalam kehidupan.
Oleh sebab itu, lagu Lingsir
Wengi dilantunkan dengan perasaan yang
lembut dan mendayu-dayu, tempo pelan, dan sangat menyayat hati.
Lagu Lingsir Wengi dipakai oleh sunan Kalijaga setelah melakukan shalat malam yang berfungsi untuk menolak bala atau mencegah perbuatan makhluk gaib yang ingin mengganggu.
Selain itu makna lagu tersebut tersirat menyatakan sebuah doa kepada Tuhan.
Berikut  potongan lirik lagu asli ” Lingsir Wengi ” :
” Lingsir wengi… sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling…
Awas jo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet “
Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih begini :
” Menjelang malam, dirimu akan lenyap…
Jangan bangun dari tempat tidurmu
Awas jangan menampakkan diri
Aku sedang dalam kemarahan besar
Jin dan setan yang kuperintah
Menjadi perantara
Untuk mencabut nyawamu “
Setelah lagu Lingsir Wengi ini digunakan  sebagai lagu latar dari film Kuntilanak Indonesia membuat maknanya menjadi salah arti.
Sehingga membuat para pendengar lagu tersebut menjadi ketakutan karena akan kedatangan makhluk gaib ketika mendengar lagu ini.
Padahal dulunya, lagu Lingsir Wengi ini biasa dinyanyikan oleh ibu-ibu untuk menidurkan anaknya di kala malam yang sunyi, yang berfungsi agar si anak diberikan perlindungan oleh Tuhan yang Maha Pelindung.
Tak heran lagu ini pun memiliki nama lain yaitu
kidung Rumekso Ing Wengi.
Maka intinya, lagu Lingsir Wengi itu bukanlah lagu pemanggil makhluk ghaib, setan, ataupun kuntilanak, melainkan lagu yang berisi pesan tersirat untuk kebaikan.
Yang penasaran , silahkan download lagu lingsir wengi.mp3
Jadi inti dari artikel ini adalah bahwa apapun pikiran kita, jika kita berpikir positif, maka akan positif pula yang kita dapatkan. Begitupun sebaliknya…

Tuesday, May 3, 2016

Mengenal Anatomi atau Ricikan Keris Jawa

ricikan-keris
Gambar Ricikan Keris Jawa
GRC - Dalam keris jawa terdapat rincian nama yang digunakan untuk menyebut bagian-bagian keris, nama-nama tersebut sering kali disebut sebagai Ricikan Keris. Nama-nama ricikan tersebut bisa diibaratkan seperti yang terdapat pada anatomi tubuh manusia, ada tangan, kaki, dada, pundak, kepala dan lain sebagainya.
Ada banyak sekali jenis dan bentuk keris, masing-masing bentuk dan jenis biasanya akan memiliki nama yang berbeda. Semakin sederhana bentuk sebilah keris, maka akan sedikit pula ricikannya. Secara sederhana sebilah keris memiliki tiga bagian, yakni wilahan (bilah), bagian ganja dan pesi. Bagian wilahan dapat dibagi tiga, yakni pucukan(bagian paling ujung yang runcing), awak-awak (bagian tubuh keris) dan sor-soran (bagian bawah keris). Nama-nama ricikan keris paling banyak ditemukan pada bagian sor-soran keris. Hal ini karena motif dan ornamen keris lebih banyak terdapat dibagian bawah/pangkal keris.
ricikan-keris
Gambar Ricikan Keris Jawa
Adapun nama-nama dalam ricikan keris diantaranya :
  1. Pesi, yaitu tangkai keris yang masuk ke dalam pegangan atau ukir.
  2. Ganja, yaitu dasar bilah keris yang tebal. Ganya dapat menyatu atau terpisah dengan bilah.
  3. Buntut Mimi, merupakan bentuk meruncing pada ujung ganja.
  4. Greneng, yaitu ornamen berbentuk huruf Jawa Dha (seperti huruf W ) yang berderet.
  5. Thingil, yaitu tonjolan kecil pada grenelig atau pada dasar huruf Jawa Dha.
  6. Ri pandhan, yaitu bentuk ujung yang meruncing menyerupai duri pada huruf Jawa Dha.
  7. Ron Dha, yaitu ornamen pada huruf Jawa Dha.
  8. Sraweyan, yaitu dataran yang merendah di belakang sogogwi, di atas ganja.
  9. Bungkul, bentuknya seperti bawang, terletak di tengah-tengah dasar bilah dan di atas ga~qa.
  10. Pejetan, bentuknya seperti bekas pijatan ibu jari yang terletak di belakang gandik.
  11. Lambe Gajah, bentuknya menyerupai bibir gajah. Ada yang rangkap dan Ietaknya menempel pada gandik.
  12. Gandik, berbentuk penebalan agak bulat yang memanjang dan terletak di atas sirah cecak atau ujung ganja.
  13. Kembang Kacang, menyerupai belalai gajah dan terletak di gandik bagian atas.
  14. Jalen, menyerupai taji ayam jago yang menempel di gandik.
  15. Tikel Alis, terietak di atas pejetan dan bentuknya rnirip alis mata.
  16. Janur, bentuk lingir di antara dua sogokan.
  17. Sogokan depan, bentuk alur dan merupakan kepanjangan dari pejetan.
  18. Sogokan belakang, bentuk alur yang terletak pada bagian belakang.
  19. Pudhak sategal, yaitu sepasang bentuk menajam yang keluar dari bilah bagian kiri dan kanan.
  20. Poyuhan, bentuk yang menebal di ujung sogokan.
  21. Landep, yaitu bagian yang tajam pada bilah keris.
  22. Gusen, terletak di be!akang landep, bentuknya memanjang dari sor-soran sampai pucuk.
  23. Gula Milir, bentuk yang meninggi di antara gusen dan kruwingan.
  24. Kruwingan, dataran yang terietak di kiri dan kanan adha-adha.
  25. Adha-adha, penebalan pada pertengahan bilah dari bawah sampal ke atas.

Sunday, November 23, 2014

CANDI BOROBUDUR MAHAKARYA ARSITEKTUR ABAD KE IX

Jauh sebelum Angkor Wat berdiri di Kamboja dan katedral-katedral agung ada di Eropa, Candi Borobudur telah berdiri dengan gagah di tanah Jawa. Bangunan yang disebut UNESCO sebagai monumen dan kompleks stupa termegah serta terbesar di dunia ini ramai dikunjungi oleh peziarah pada pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-11. Umat Buddha yang ingin mendapatkan pencerahan berduyun-duyun datang dari India, Kamboja, Tibet, dan China. Tidak hanya megah dan besar, dinding Candi Borobudur dipenuhi pahatan 2672 panel relief yang jika disusun berjajar akan mencapai panjang 6 km! Hal ini dipuji sebagai ansambel relief Buddha terbesar dan terlengkap di dunia, tak tertandingi dalam nilai seni.

Relief yang terpahat di dinding candi terbagi menjadi 4 kisah utama yakni Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka dan Awadana, serta Gandawyuda. Selain mengisahkan tentang perjalanan hidup Sang Buddha dan ajaran-ajarannya, relief tersebut juga merekam kemajuan masyarakat Jawa pada masa itu. Bukti bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia adalah pelaut yang ulung dan tangguh dapat dilihat pada 10 relief kapal yang ada. Salah satu relief kapal dijadikan model dalam membuat replika kapal yang digunakan untuk mengarungi The Cinnamon Route dari Jawa hingga benua Afrika. Saat ini replika kapal yang disebut sebagai Kapal Borobudur itu disimpan di Museum Samudra Raksa.

Untuk mengikuti alur jalinan kisah yang terpahat pada dinding candi, pengunjung harus berjalan mengitari candi searah jarum jam atau yang dikenal dengan istilah pradaksina. Masuk melalui pintu timur, berjalan searah jarum jam agar posisi candi selalu ada di sebelah kanan, hingga tiba di tangga timur dan melangkahkan kaki naik ke tingkat berikutnya. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga semua tingkat terlewati dan berada di puncak candi yang berbentuk stupa induk. Sesampainya di puncak, layangkanlah pandangan ke segala arah maka akan terlihat deretan Perbukitan Menoreh, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu yang berdiri tegak mengitari candi. Gunung dan perbukitan tersebut seolah-olah menjadi penjaga yang membentengi keberadaan Candi Borobudur.

Berdasarkan prasasti Kayumwungan yang bertanggal 26 Mei 824, Candi Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga antara abad ke-8 hingga abad ke-9, berbarengan dengan Mendut dan Pawon. Proses pembangunan berlangsung selama 75 tahun di bawah kepemimpinan arsitek Gunadarma. Meski belum mengenal komputer dan peralatan canggih lainnya, Gunadarma mampu menerapkan sistem interlock dalam pembangunan candi. Sebanyak 60.000 meter kubik batu andesit yang berjumlah 2.000.000 balok batu yang diusung dari Sungai Elo dan Progo dipahat dan dirangkai menjadi puzzle raksasa yang menutupi sebuah bukit kecil hingga terbentuk Candi Borobudur.

Borobudur tidak hanya memiliki nilai seni yang teramat tinggi, karya agung yang menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Mengusung konsep mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.

Menikmati kemegahan Candi Borobudur tidak hanya cukup dengan berjalan menyusuri lorong dan naik ke tingkat teratas candi. Satu hal yang jangan dilewatkan adalah menyaksikan Borobudur Sunrise dan Borobudur Sunset dari atas candi. Siraman cahaya mentari pagi yang menerpa stupa dan arca Buddha membuat keagungan dan kemegahan candi lebih terasa. Sedangkan berdiri di puncak candi di kala senja bersama deretan stupa dan menyaksikan sinar matahari yang perlahan mulai lindap akan menciptakan perasaan tenang dan damai.